Minggu, 06 Desember 2009

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR, MEDIA DAN PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN SESUAI KTSP


PENGEMBANGAN BAHAN AJAR, MEDIA DAN PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN SESUAI KTSP

Oleh : Drs. Mamat Rahmat, M.Pd.

A.     Pendahuluan
Kurikuulm selalu terkait dengan pembelajaran. Aspek-aspek ideal dalam kurikulum dijabarkan secara aktual dalam pembelajaran melalui interaksi antara siswa dengan sumber belajar. Kurikulum sebagai written document perlu dijabarkan melalui pembelajaran dengan pelibatan secara optimal semua komponen dalam pembelajaran. Komponen tersebut meliputi kompetensi, content, method, media, dan evaluasi. Bahan ajar , media dan model pembelajaran apa yang sesuai dengan KTSP? Untuk menjawab tersebut perlu dikaji terlebih dulu konsep KTSP secara komprehensif dan KTSP di Madrasah.
 komponen dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan operasional pembel-ajaran tersebut dilaksana-kan secara kolektif antara kepala sekolah/madrasah, guru dan komite sekolah/madrasah sesuai dengan prosedur yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Pengembang-an KTSP disesuaikan dengan satuan pendidikan, potensi daerah, karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik.
Kurikulum 2006 merupakan hasil penyempurnaan Kurikulum 2004 yang wujudnya bisa dilihat dalam konseptualisasi Stándar Kompe-tensi dan Komptensi Dasar (SKKD). Kurikulum ini telah disahkan penggunaannya di sekolah/ madrasah secara berangsur-angsur mulai tahun ajaran 2006/2007, baik jenjang pendidikan dasar maupun jenjang pendidikan menengah.
Bagi sekolah/madrasah yang belum siap, bisa melanjutkan penggunaan kurikulum yang sedang mereka gunakan saat ini (Mulyasa,  2006: 1). Oleh karena itu, bisa jadi saat ini di sekolah/madrasah terjadi tiga macam penggunaan kurikulum: Kurikulum  1994, Kurikulum 2004 dan Kurikulum 2006. Pemerintah memang menyediakan waktu yang cukup longgar untuk implementasi Kurikulum 2006, yakni hingga tiga tahun ajaran kedepan, sehingga diperkirakan pada tahun ajaran 2009/2010 semuanya sudah melaksanakan. Hal ini sesuai dengan Peraturan Mendiknas RI Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Permen No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permen No. 23 Tahun 2006 tentang SKL untuk Pendidikan Dasar dan Menengah.

B.     Pengembangan Kurikulum di Madrasah
Banyak momentum penting dalam konteks pemberdayaan pendidikan agama di Indonesia, antara lain dibentuknya Departemen Agama tahun 1946, dimuat tentang pendidikan madrasah dalam UU No. 4 Tahun 1950 yang menyetarakan posisi madrasah dan sekolah dalam konteks wajib belajar. Tahun 1958 dikenalkan istilah Madrasah Wajib Belajar (7-8 tahun), tahun 1975 diterbitkannya SKB 3 Menteri yang ditindaklanjuti dengan disusunnya kurikulum tahun 1975 yang membagi 70 % umum 30 % agama. Tahun 1990 predikat madrasah menjadi sekolah yang berciri khas agama Islam, pembaharuan kurikulum tahun 1994 dan 1998 yang tetap mengakomodasi ciri khas agama Islam, serta tahun 2003 yang eksplisit dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tidak ada lagi diskriminasi antara madrasah dan sekolah.
Madrasah adalah lembaga pendi-dikan Islam jenjang pendidikan tingkat dasar (MI dan MTs) dan menengah (MA dan MAK) yang diselenggarakan secara formal sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku yang memberi tekanan pada ciri khas keislaman melalui tafaqquh fi al-diin, pembudayaan akhlakul karimah dan pembentukan tamaddun Islam.
Pendidikan Islam mengajarkan bahwa proses pendidikan seharusnya tidak hanya diorientasikan pada transformasi ilmu pengetahuan, akan tetapi merupakan proses pembinaan, pengembangan dan pembentukan karakter anak didik. Di sini sesungguhnya madrasah memain-kan peran yang sangat vital terhadap penyiapan generasi bangsa yang ‘alim ‘amaly dan ‘a-mil ‘ilmy  memiliki integritas il-miyah dan amaliyah sekaligus.
Oreintasi pendidikan Islam tersebut secara khusus juga membawa perubahan penting keberadaan pendidikan agama dan pendidikan agama dan keagamaan yang selama ini menjadi tanggung jawab Depertemen Agama. Posisi sekolah umum dan madrasah, kini benar-benar sejajar; sedangkan pendidikan keagamaan di sektor-sektor non formal mendapatkan pengakuan resmi sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2007.
Konsekwensi dari perubahan paradigma pendidikan tersebut adalah munculnya berbagai spekulasi baru dalam proses pembelajaran. Masyarakat pendi-dikan kini mulai terbuka dengan berbagai model pembelajaran “baru” yang mulai menempatkan siswa sebagai titik utama, atau proses sebagai sesuatu yang lebih penting daripada proses, dan sebagainya. Salah satu pendekatan yang akhir-akhir ini menjadi bahan kajian pada umumnya praktisi pendidikan adalah implementasi KTSP. Dalam rangka meningkatkan mutu isi dan proses pendidikan madrasah, berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain:  Melibatkan Komite Madrasah dan Stakeholders, Meningkatkan Kemandirian Madrasah, dan Menciptakan Lingkungan Madrasah yang Kondusif.

C.     Komponen Pembelajaran dalam KTSP



















Sebagai sebuah sistem, masing-masing komponen dalam pembeljaran tersebut membentuk sebuah integritas atau satu kesatuan yang utuh. Masing-masing komponen saling berinteraksi yaitu saling berhubungan secara aktif dan saling mempengaruhi. Misalnya dalam menentukan bahan pembelajaran merujuk pada tujuan yang telah ditentukan, serta bagaimana materi itu disampaikan akan menggunakan strategi yang tepat yang didukung oleh media yang sesuai. Dalam menentukan evaluasi pembelajaran akan merujuk pada tujuan pembelajaran, bahan yang disediakan media dan strategi yang digunakan, begitu juga dengan komponen yang lainnya saling bergantung (interdevedensi) dan saling terobos (interpenetrasi).

          Seiring dengan lahirnya KBK dan berkembang menjadi KTSP, maka direkomendasikan beberapa model untuk mendukung pelaksanaan KTSP yang terkait dengan pengembangan bahan ajar, media dan metode. Diantaranya ; (1) Pengembangan bahan ajar berbasis ICT, (2) Metode Contextual Teaching Learning, (3) Pembelajaran Aktif, Kreatif dan Menyenangkan (PAKEM0, (4) Media berbasis Multimedia.

D. Bahan Ajar Berbasis ICT
ICT dapat menunjang optimalisasi sekolah/madrasah, karena potensi ICT cukup besar, diantaranya (1).Memperluas kesempatan belajar, (2) Meningkatkan efisiensi, (3) Meningkatkan kualitas belajar, (4) Meningkatkan kualitas mengajar, (5) Memfasilitasi pembentukan keterampilan, (6) Mendorong belajar sepanjang hayat berkelanjutan, (7) Meningkatkan perencanaan kebijakan dan manajemen, (8) Mengurangi kesenjangan digital.Begitu besar peran ICT dalam pendidkan sehingga secara khusus pemerintah dalam Pustekkom Diknas membagi peran ICT di sekolah modern menjadi 7 peran sekaligus sebagi pilar pendidikan. Ke-7 peran ICT tersebut yaitu :
1.    ICT sebagai gudang ilmu pengetahuan. Artinya dengan ICT sumber ilmu pengetahuan menjadi begitu kaya bahkan melimpah, baik ilmu pengetahuan inti (core content) dalam pelajaran sekolah maupun sebagai materi pengaya pembelajaran (content suplement).Pada fungsi ini internet memiliki peran besar sebagai sumber ilmu pengetahuan yang dapat diakses secara luas yang didalamnya telah terkoneksi denga ribuan perpustakaan digital, jutaan artikel/jurnal, jutaan e-book, dan lan-lain.
2.    ICT sebagai alat bantu pembelajaran. Artinya bahwa pembelajaran saat ini lebih mudah dengan bantuan ICT, untuk menghadirkan dunia di kelas dan dapat disajikan kepada seluruh siswa melalui peralatan ICT seperti multimedia dan media pembelajaran hasil olahan komputer seperi poster, grafik, foto, gambar, display, dan media grafis yang lainnya. Pemanfaatan CD Interaktif, Video Pembelajaran, Multimedia presentasi, e-learning termasuk pada bagian ini.
3.    ICT sebagai fasilitas pendidikan. Dalam hal ini ICT sebagai saran yang melengkapi fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan, terutama fasilitas-fasilitas yang bernuansa elektronik seperti labolatorium komputer, peralatan di laboratorium bahasa, raung multimedia, studio rekaman suara, studio musik, studio produksi video dan editing.
4.    ICT sebagai standar kompetensi. Artinya ICT sebagai mata pelajaran yang kita kenal Mata Pelajaran TIK. Mata pelajaran ini berisi standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang harus dikuasi oleh siswa mulai SD/Mi, SMP/MTs dan SMA/MA, sebagai bekal siswa dalam kehidupannya (life skill) dan bekal melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi.
5.    ICT sebagai penunjang administrasi pendidikan. Misalnya pemanfaatan software aplikasi untuk membantu administrasi sekolah seperti pembuatan jadwal, pembuatan database siswa, pembuatan laporan sekolah dan rapot siswa, pengolahan nilai siswa, dan lain-lain.






















6.    ICT sebagai alat bantu manajemen sekolah. Manajemen terkait dengan perencanaan, pengelolaan, pengawasan dan evaluasi penyelengaraan pendidikan di tingkat sekolah. Fungsi-fungsi tersebut dapat dibantu dengan pemanfaatan ICT, misalnya melalui program aplikasi pengolah kata dapat membuat dokumen-dokumen perencanaan sekolah, SIM atau sistem informasi Manajemen sekolah dapat dibuat sekolah sebagai sumber informasi untuk mempermudah akses informasi. Melalui Jardiknas, akan terbangun komunitas antar sekolah yang memudahkan komunikasi antar sekolah. Melalui CCTV saat ini dapat dimanfaatkan sekolah sebagai salah satu bentuk pengawasan pembelajaran.
7.    ICT sebagai imprastruktur pendidikan. Imprastruktur terkait dengan sarana dan pra sarana lebih luas yang dibutuhkan sekolah termasuk gedung sekolah, ruang kelas virtual, kelas multimedia, dan pembangunan koneksi internet seperti pemasangan tower internet.

Seiring dengan berkembnagnya ICT maka berimplikasi pada penyusunan bahan ajar yang menggunakan ICT sebagai alat pembuatan bahan ajar, maupun Bahan ajar itu sendiri berbasis ICT. Diantara bahan ajar yang berbasis ICT diantaranya:
a.    Multimedia Interaktif. Materi pembelajaran didesain dengan kemasan teknologi komputer yang terprogram dalam bentuk software. Di masyarakat sering disebut dengan CD Interaktif. Bahan ajar ini dapat digunakan oleh siswa untuk belajar secara mandiri dan sebagai pengayaan (enrichment) dari materi yang disampaikan guru di kelas. Kelebihan bahan ajar ini selain interaktif juga memiliki unsur multimedia yakni kombinasi antara teks, suara, gambar, video dan animasi.
b.    Bahan ajar dalam bentuk media presentasi. Dengan teknologi Software Presentation, guru dapat mengembangkan bahan untuk mengajar lebih menarik, mudah dalam pembuatan dan penyajian serta menarik perhatian siswa. Siswa dapat mempelajari materinya dengan melihat bahan-bahan yang tersaji pada media presentasi.
c.    Bahan Ajar berbasis Web. Materi pelajaran tersaji di dalam halam-halaman web, siswa dapat mengaksesnya di mana saja asalkan terdapat koneksi internet yang memadai. Guru dapat menyimpan bahan-bahan pembelajaraanna secara aktif di halaman web tersebut.
d.    E-Book.  Materi pembelajaran dalam bentuk buku (ful text) namun disajikan dalam bentuk elektronik. Pemerintah sedang menggalakan program ini dengan memberikan buku bermutu untuk digunakan siswa secara elektronik, dapat diakses di http://www.bse.depdiknas.go.id

E.  Pemanfaatan Sumber Belajar
Belajar mengajar sebagai suatu proses merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari sistem yang lainnya yang saling berinteraksi. Salah satu komponen dalam pembelajaran adalah sumber belajar (learning resources). Sumber belajar lahir dalam upaya untuk meningkatkan kadar hasil belajar. Secara sederhana sumber belajar adalah daya yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran untuk kemudahan kepada mahasiswa dalam belajar memeahami dan memperoleh suatu keterampilan (performace) dalam pembelajaran.
Dalam pengembangannya, sumber belajar dapat dibedakan  menjadi dua macam, yaitu pertama, sumber belajar yang dirancang atau secara sengaja dibuat untuk pembelajaran disebut juga learning resources by design misalnya : buku, brosur, ensiklopedia, film, video, tape, slide, film strip, dll, kedua sumber belajar dimanfaatkan dan tidak secara sengaja dirancang untuk pembelajaran  yang ada disekitar kita.Sumber belajar ini disebut juga learning resources by utilization. Misalnya : alam sekitar, pasar, toko, museum, tokoh masyarakat dan sebagainya. Semua sumber belajar baik yang dirancang maupun yang tidak dirancang dapat diklasifikasikan yang meliputi : orang, peralatan, teknik dan metode, dan lingkungan. Secara rinci sumber belajar terdiri dari :
a.    Istilah people atau man sebagai pihak yang menyelurkan pesan pembelajaran misalnya dosen, guru / dosen, penceramah, dll.
b.    Media instrumentation meliputi matterial dan device sebagai bahan (software) dan perlengkapan (hardware)
c.    Technice atau Methode  sebagai cara atau metode dalam menyampaikan informasi.
d.    Environment atau setting sebagai lingkungan tempat interaksi  belajar mengajar terjadi.



JENIS SUMBER BELAJAR
PENGERTIAN
CONTOH
Dirancang
Digunakan
1. Pesan (Massage)
Informasi yang harus disalurkan oleh komponen lain berbentuk ide, fakta, pengertian, data
Bahan-bahan pelajaran
Cerita rakyat, dongeng, legenda, nasihat, dll.
2. Manusia (People)
Orang-orang yang menyampaikan informasi atau menyalurkan pesan (informasi pembelajaran)
Guru / dosen, dosen, mahasiswa, pembicara pakar, konsultan,
Pemuka masyarakat, pengusaha, politisi, pimpinan kantor, responden, dll
3. Bahan (material)
Sesuatu bisa disebut media / software yang mengandung pesan untuk disajikan melalui pemakaian peralatan
Transparansi, film slide, buku, bagmbar, liflet, brosur, modul, digital library (CD buku)
Relief, candi, arca, peralatan teknik, , dll.
4. Peralatan (device)
Sesuatu dapat disebut media (hardware, yang menyalurkan pesan, untuk disajikan bersama dengan software)
OHP, Multimediua projector, Slide projector, Film, TV, Kamera, Whiteboard
Generator, peralatan kesenian, alat-alat kendaraan, mesin, dll
5. Teknik / metode  (technice)
Prosedur yang disiapkan dalam mempergunakan bahan pelajaran , peralatan, situasi, kondisi peralatan untuk menyampaikan pesan
Ceramah, diskusi, Contextual Teaching Learning, Simulasi, Demonstrasi, Kuliah, Seminar, Belajar Mandiri.
Permainan, saresehan, percakapan biasa (spontanitas), dll.
6. Lingkungan (Setting)
Situasi sekitar dimana pesan disalurkan / ditransmisikan
Ruang kelas, laboratorium seni, perpustakaan, auditorium
Taman, kebun, gunung, bukit, musieum, toko, tempat wisata.

F.  Penggunaan Media Pembelajaran
Secara sederhana istilah media dapat didefinisikan sebagai perantara atau  pengantar. Sedangkan istilah pembelajaran adalah kondisi untuk membuat seseorang melakukan kegiatan belajar. Dengan merujuk pada devinisi tersebut maka media pembelajaran adalah wahana penyalur pesan atau informasi belajar sehingga mengkondisikan seseorang untuk belajar atau berbagai jenis sumberdaya yang dapat difungsikan dalam proses pembelajaran, berdasarkan ruang lingkup sumber belajar di atas, maka media pembelajaran merupakan bagian dari sumber belajar yang menakankan pada software atau perangkat lunak dan hardware atau perangkat keras.Nilai media ditentukan oleh fungsinya yang sangat kuat untuk meningkatkan kadar hasil belajar, beberapa fungsi media meliputi :
·           Menangkap suatu objek atau peristiwa tertentu.Peristiwa-peristiwa penting atau objek yang langka, dapat di abadikan dengan foto film atau direkam melalui radio kemudian peristiwa itu dapat disampaikan dan dapat digunakan manakala diperlukan.Guru / dosen dapat menjelaskan proses terjadinya gerhana matahari yang langka melalui hasil rekaman video. Atau bagaimana proses perkembangan ulat menjadi kupu-kupu proses perkembangan bayi dalam rahim dari mulai sel telur dibuahi sampai menjadi embrio dan berkembang menjadi bayi. Dalam pelajaran IPS guru / dosen dapat menjelaskan bagaimana terjadinya peristiwa proklamasi melalui tayangan film dan sebagainya.
·           Memanipulasi keadaan, peristiwa atau objek tertentu.Dengan menggunakan model sebagai media, maka guru / dosen dapat menyuguhkan pengalaman yang konkrit kepada mahasiswa. Contohnya, guru / dosen ingin menjelaskan tentang Candi Borobudur di dalam kelas maka guru / dosen dapat membuat miniatur atau model candi tersebut dalam ukuran kecil. Demikian juga menjelaskan cara kerja suatu alat atau organ tubuh manusia seperti jantung maka melalui film loop yang bergerak terus menerus, cara kerja itu dapat lebih dipahami oleh sisswa.
·           Kesempatan belajar yang lebih merata. Dengan mengggunakan berbagai media seperti audio, video, slide suara, dan sebagainya, memungkinkan setiap orang dapat belajar dimana saja dan kapan saja.
·           Pengajaran lebih berdasarkan ilmu. Dengan menggunakan media proses belajar mengajar akan lebih terencana dengan baik sebab media dianggap sebagai bagian yang integral dari sistem belajar mengajar, oleh sebab itu sebelum pelaksanaannya guru / dosen dihadapkan kepada satu keharusan untuk mengidentifikasi dan karakteristik itu mahasiswa sehubungan dengan menggunakan media.
·           Menampilkan objek yang terlalu besar untuk dibawa keruang kelas.
·           Memperbesarserta memperjelas objek yang terlalu kecil yang sulit nampak dilihat mata, seperti sel-sel butir darah/molekul bakteri dan sebagainya.
·           Mempercepat gerakan suatu proses yang terlalu lambat sehingga dapat dilihat dalam waktu yang relatif cepat.
·           Memperlambat suatu proses gerakan yang terlalu cepat.
·           Menyederhanakan suatu objek yang terlalu komplek.
·           Memperjelas bunyi-bunyian yang sangat lemah sehingga dapat di tangkap oleh telinga.
Manfaat lain dari media pembelajaran adalah : Pertama, media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki mahasiswa, Kedua, media dapat mengatasi batas ruang kelas Ketiga, dapat memungkinkan terjadinya iteraksi langsung antara peserta dan lingkungan. Keempat, media dapat menghasilkan keseragaman pengamat. Kelima, media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, nyata dan tepat. Keenam, media dapat membangkitkan motifasi dan merangsang peserta untuk belajar dengan baik. Ketujuh, media dapat membangkitkan keinginan dan minat baru. Kedelapan, media dapat mengontrol atau kecepatan belajar peserta. Kesembilan, media dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dari hal-hal yang konkrit sampai yang abstrak.
          Pentingnya penggunaan media dalam pembelajaran, diperkuat oleh pendapat Edgare Dale yang mengemukakan teori yang kemudian lebih dikenal dengan teori Kerucut Pengalaman : Dalam teori ini keberhasilan belajar diukur dengan kadar pengalaman belajar yang diperoleh mahasiswa tergantung perlakukannya dalam belajar, baik perlakukan guru / dosen atau aktivitas mahasiswa ketika belajar.



n Written text
n Symbols, icons
n Graphs, plots
n Recorded audio
n Pictures
n Video, film
n Live audio
n Live presentation
n Performance




















Dari gambaran di atas, dapat dijelaskan bahwa perlakukan dalam pembelajaran akan mempengaruhi terhadap pengalaman belajar, semakin abstrak perlakukan dalam pembelajaran misalnya dengan ceramah yang menggunakan simbol, belajar dengan membaca maka pengalaman belajar yang diperoleh tidak terlalu besar, sebaliknya semakin menggunakan media yang mengarahkan pada kegiatan langsung (performane) maka pengalaman belajar akan diperoleh secara maksimal. Secara sederhana perolehan pengalaman belajar dapat dilihat sebagai berikut :

 











Kedudukan media cukup penting artinya dalam meningkatkan kadar informasi yang kita ingat (70%) dibandingkan dengan pembelajaran melalui metode ceramah (20%)
Berdasarkan klasifikasinya Ely (1980 : 22) mengklasifikasikan media menjadi 6 klasifikasi yaitu :
1.     Kelompok media gambar diam/tidak bergerak, seperti gambar. Foto, peta, katun, ssketsa, grafik dan sebagainya.
2.     Benda-benda yang hanya dapat didengar, seperti radio rekaman piring hitam, tape rekorder, dan sebagainya.
3.     Gambar hidup yang bersuara maupun yang tidak bersuara seperti film 8 mm dan film ukuran 16 mm.
4.     Televisi dan radio
5.     benda-benda asli, orang model dan simulasi benda atau objek adalah benda yang sesngguhnya yang dapat diperoleh dari lingkungan sekitar seperti dari kebun sekolah atau lingkungan sekolak. Orang adalah manusia-manusia yang dapat dijadkan sebagai sumber belajar seperti guru / dosen, tokoh masyarakat, putakawan dokter, dan orang yang mempunyai keahlian masing-masing. Model adalah seluruh benda-benda tiruan sehingga model kerngka manusia, model jatung, model mobil-mobilan, dan sebagainya. Sedangkan simulasi adalah aktifitas mahasiswa sebagai peniruan situasi yang sebenarnya, seperti tingkah laku seseorang dokter dalam pemeriksaan pasaien, tingkah laku pengemudi model dan sebagainya.
6.     Pengajaran program dan pengajaran dengan bantuan komputer, adalah benda-benda atau pengajaran yang sudah dipersiapkan, sebelumnya untuk digunakan oleh mahasiswa untuk bahan belajar, seperti buku, teks, modul, dan program pengajaran yang disiapkan dengan menggunakan komputer.


G.    Model Pakem
Model pakem menuntut guru selain menguasai bahan atau materi pembelajaran, juga kemampuan menciptakan situasi pembelajaran segaligus menjadi entertainment dalam kelas.  Berbagai tehnik dan pendekatan harus dikuasai yang memadukan karakteristik pendekatan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, belajar menyenangkan dengan ke khasan dan keragaman peserta didik.  …., beginning teachers must develop the ability to apply knowledge appropriately in different contexts while handling the dozens cognitive, psychological, moral and interpersonal demand that simultaneously require attention in a classroom (Hammond & Cobb,1996 dalam Hellmut R & David N E, 2006).
Kemampuan interpersonal dan komunikasi. diawali dari komunikasi oral skill, berbicara jelas, baik struktur atau intonasi,  pandai membuat kalimat, misalnya kalimat atau bentuk pertanyaan yang digunakan untuk mengecek pemahaman siswa atau untuk mendorong  tanggapan atau pengembangan minat, kemudian  bahasa non verbal seperti gerakan isyarat,  kontak mata, kemampuan mendengarkan siswa, empati,  memahami perspektif peserta didik dan indikator interpersonal lainnya. Pakem menggagas interaksi pembelajaran yang tidak berpusat pada guru, adanya peran aktif guru juga peserta didik. Peserta didik didorong agar tumbuh motivasi internal untuk belajar, atau  bagi peserta didik tertentu (disability )  peran aktif guru membimbing, membelajarkan apa yang penting dan sesuai untuk mereka. 
     Dalam pelaksanaan pakem beberapa hal yang dituntut untuk diperhatikan yaitu:
  1. Mengerti tujuan dan fungsi belajar
 Memahami tujuan yang hendak dicapai baik jangkah panjang atau jangkah pendek (satu pertemuan atau perminggu) memerlukan pemikiran yang matang dan tajam serta apa fungsi dan kegunaan pembelajaran secara hakekat atau praktis masa sekarang dan akan datang bagi peserta didik.
  1. Mengenal peserta didik secara perseorangan
Guru dituntut memahami keunikan masing-masing peserta belajar yang dihadapinya,  bakat, minat, kecendrungan-kecendrungan yang dimiliki, latar belakang budaya atau hendaya yang ada karena komponen-komponen ini harus dipertimbangkan dalam mengembangkan dan menerapkan suatu manajemen pembelajaran.


  1. 9

    Memanfaatkan kemampuan dan perilaku peserta didik dalam penataan pembelajaran.
Kemampuan atau hendaya peserta didik dapat didayagunakan untuk mengorganisasi pembelajaran yang berkaitan dengan  penugasan atau pengelompokan siswa sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.
  1. Mengembangkan kemampuan berfikir kritis, kreatif dan kemampuan memecahkan masalah. Pengelolah kelas, mengajukan pertanyaan, memilih materi, memberi penguatan, mengadakan variasi pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. 
  2. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Dengan lingkungan yang menarik, diharapkan dapat minibulkan rasa senang, serta meningkatkan efektifitas serta efisiensi pembelajaran.
  1. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan kelas, sekolah atau alam sekitar dapat memberikan arti, memperkecil verbalisme atau kesalahan penafsiran  bila didayagunakan dengan baik dan pembelajaran akan bersifat kontektual.
  1. Memberikan umpan balik yang dapat  meningkatkan pembelajaran
Umpan balik dapat memberikan pengutan atau konfirmasi  pada peserta didik tentang apa yang dipelajarinya.
  1. Jeli dalam membedahkan aktif secara fisikal dan mental
Aktif disini bukan kumpulan kegembiraan dan permainan belaka tetapi lebih dengan mendayagunakan otaknya untuk berfikiran dan berkreasi.
  1. Memilih dan menggunakan tehnik dan metoda yang tepat
Ketepatan metoda yang dipilih dan tehnik yang digunakan harus selaras  dengan bahan ajar, sesuai dengan kondisi dan keunikan peserta didik
  1. Menggunakan media atau alat bantu yang tepat.
Media yang tepat merupakan alat Bantu dalam efisiensi serta efektifitas pembelajaran

Ciri-ciri Pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan
    Untuk dapat menciptakan pakem guru dituntut juga aktif, kreatif, efektif  dengan beberapa indikator antara lain :
  1. Menggunakan berbagai metoda  antara lain:
Bermain peran, Diskusi, Pemecahan masalah, Ekpositoring, Tanya jawab, kontektual yang disesuaikan dengan tujuan dan materi
  1. Menggunakan berbagai media seperti :
 Media cetak, Media elektronik, media lainnya seperti AVA
  1. Menggunakan berbagai alat antu  yaitu:
Memberdayakan alam lingkungan, buatan sendiri, atau dengan membeli di took
  1. Berisi berbagai kegiatan
Adanya ekprimen-ekprimen, merancang sesuatu, menganalisa, merangkum bacaan, membuat lapaoran dsb
  1. Menggunakan berbagai sumber
Sumber lingkungan, Minat peserta didik atau kehidupan sehari- hari.
  1. Memperhatikan individualitas  peserta didik
Berkaitan dengan  potensi, bakat (aptitude) minat ( interest), sikap, latar belakang budaya, bahasa atau sosialekonomi.
  1. Membuat peserta didik tidak takut
Tidak takut untuk mencoba, tidak takut ditertawakan, tidak takut dianggap remeh atau kecil.


  1. 11

    Tidak menganggap peserta didik sebagai botol atau tempayan kosong
Pada dasarnya peserta didik telah membawah kemampuan-kemampuan atau modal dalam belajar, tetapi karena mereka mahluk yang sedang berkembang maka  masih  masih perlu didik.
  1. Menumbuhkan motivasi peserta didik
Guru mendorong untuk menggerakkan dan menuntun peserta didik dalam mengambil inisiatif dan bertindak efektif, mempengaruhi motivasi belajar, agar muncul motivasi intrinsic pada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini sebagai sikap empaty pendidik( guru )
  1. Siswa merasa butuh belajar
Dengan motivasi yang terarah dan tinggi diharapkan muncul suatu kebutuhan dan kesadaran dari peserta didik akan perlunya belajar dan  tidak memandang belajar adalah tugas rutin bagi mereka.
  1. Mendapatkan manfaat belajar
Dari rangkaian pembelajaran diharapkan dapat memberikan kegunaan bagi peserta didik baik jangkah pendek atau jangkah panjang pada dirinya sendiri  atau untuk orang lain.


H.    Metode Contextual Teaching Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual (contextual Teaching and Learning atau CTL) merupakan suatu sistem atau pendekatan pembelajaran yang bersifat holistik (menyeluruh). Pembelajaran ini terdiri atas komponen-komponen yang saling terkait, yang apabila dilaksanakan masing-masing memberikan dampak sesuai dengan peranannya (Sukmadinata, 2004 : 196). Model pembelajaran ini bisa diumpamakan sebuah orkes simponi yang terdiri atas biola, selo, klarinet, bas dan lain-lain, yang dimainkan secara harmonis. Tiap unsur dari pembelajaran mempunyai peran tertentu bagi perkembangan belajar siswa.
beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson (2000:65), yang dapat di uraikan sebagai berikut:
1.     Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections).
Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL.
2.     Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works)
      Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan siswa.


3.     Belajar yang diatur sendiri (self-regulated Learning)
Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri.
4.     Bekerjasama (collaborating). Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
5.     Berpikir kritis dan kreatif (critical dan creative thinking).       Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah suaut kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.
6.     Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nuturing the individual).        Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya.
7.     Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards).     Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan, asalkan sia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya.
8.     Menggunakan Penilaian yang otentik (using authentic assessment).       Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nayata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar, penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari.

Komponen CTL
Terdapat tujuh komponen konponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual dikelas. Ketujuh komponen itu adalah konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling) refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).

1.  Konstruktivisme (Constructivism)
       Konstruktivisme merupakan landasan berpikir pendekatan kontekstual, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Tetapi manusi harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalaui pengalaman nyata. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide, yaitu siswa harus mengkontruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri.
     Esensi dari teori kontruksivisme adalah ide bahwa siswa haarus menemukan dan mentransfomasikan suatu informasi kompleks ke situaso lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar ini pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkontrksi bukan mnerima pengetahuan. Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan kaum objektif, yang lebih menekaankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebihdiutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan : (1) menjadikan pengetahuan bermakana dan relevan bagi siswa; (2) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi meeka sendiri dalam belajar.

2. Bertanya (questioning)
    Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya karena bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang produkstif, kegiatan bertanya berguna untuk: (1) menggaliinformasi baik administrasi maupun akademia; (2) mengecek pemahaman siswa; (3) membangkitkan respon pada siswa; (4) mengetahui sejauh mana keingin tahuan siswa; (5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa; (6) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki gur; (7)  untuk membangkitkan lebihbanyak lagi pertanyaan dari siswa; (8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa. Pada semua aktivitas belajar, questioning dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas dan sebagainya.

3.  Menemukan (inquiry)
     Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Siklus inquiry adalah (1) observasi, (2) bertanya, (3) mengajukan dugaan, (4) pengumpulan data, (5) penyimpulan. Kata kunci dari strategi inquiry adalah siswa menemukan sendiri, adapun langkah-langkah kegiatan menemukan sendiri adalah: (1) merumuskan masalah dalam mata pelajaran apapun; (2) mengamati atau melakukan observasi; (3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar,laporan, bagan tabel, dan karya lainnya; dan (4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman kelas, guru, atau audience lainnya.

4. Masyarakat Belajar (learning community)
     Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar didapat dari berbagi anatara kawan, kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Di ruang kelas ini, di sekitar sini, juga dengan orang-orang yang diluar sana semua adalah anggota masyarakat belajar. Dalam kelas yang menggunakan pendekatan kontekstual, guru disarankan dalam melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberiyahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberikan usul dan seterusnya. Kelompok siswa bisa sanagt bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di dalam kelas atasnya, atau guru mengadakan kolaborasi dengan mendatangkan seorang ahli ke kelas.

5. Permodelan (modelling)
          Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu, memberi peluang yang besar bagi guru untuk memberi contoh cara mngerjakan sesuatu, dengan begitu guru memberi model tentang bagaimana belajar. Dalam pendekatan kontekstual guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa, seorang siswa dapat ditunjuk untuk memberikan contoh temannya, misalnya cara melafalkan suatu kata. Siswa contoh tersebur dikatakan sebagai model, siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang harus dicapai.

6.   Refleksi (reflection)
          Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakng tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dalam hal belajar di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelummnya. Refleksi merupakan respons terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.

7.  Peniilaian Sebenarnya (authentic assessment)
          Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui olehb guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami  kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan  yang tepat agar siswa  agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuanbelajar itu diperlukan disepanjang proses pembelajaran, maka penilaian tidak dilakukan diakhir periode seperti akhir semester. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanyalah salah satunya, itulah hakekat penilaian yang sebarnya. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain. Karakteristik penilain sebenarnya adalah (1) dilaksanakan selama dan sesuadah proses pembelajaran berlangsung; (2) bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif; (3) yang diukur keterampilan dan performasi, bukan hanya mengingat fakta; (4) berkesinambungan; (5) terintegrasi; (6) dapat dipergunakan sebagaifeed back. Dengan demikian pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi diakhir periode pembelajaran.

Daftar Pustaka

Alessi M. Sthephen & S.R., Trollip. 1984 Computer Based Instruction Method & Development, New Jersley : Prentice-Hall, Inc.

Abbe, B (2000) Instructional and Cognitive Impact Of Web Based Education. Hersey : Idea Group Publishing

Alan Januszewski, 2001, Educational Technology : The Development of a Concept, Librarion unlimited.Inc.

Asep Saepudin, Penerapan Teknologi Informasi Dalam Pendidikan Masyarakat, Jurnal Teknodik, Edisi No.12/VII/Oktober/2003.

Blank , C.J. (2000). “A Ten Level Web Integration Continu for Higher Education”. Idea Groub Publishing
Budi Rahardjo, Proses e-Learning di Perguruan Tinggi, Seminar & Workshop, ITB, 11 Desember 2003.

Barbara B. Seels, Rita C. Richey, 1994 , Instructiuonal Technology : The Definition and Domains of The Field, AECT Washington DC.
Cepi Riyana, 2004, Strategi implementasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan menerapkan Konsep Instructional Technology, Jurnal Edutech, Jurusan Kurtek Bandung.

James, (199), School Based Planning In Information And Communication Technology: Principles, Templates & Guidelines. Tersedia : http://csile.oise.utoronto.ca/edmind/edmind.html.

Romi Satria Wahono, Strategi Baru Pengelolaan Situs eLearning Gratis, http://www.ilmukomputer.com, 2003.



Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "PENGEMBANGAN BAHAN AJAR, MEDIA DAN PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN SESUAI KTSP"

Poskan Komentar

Silahkan Kirim Komentar anda, atau Pesanan Anda